Beranda | Artikel
Tafsir Surah An-Naba (Bag. 2): Alam Semesta adalah Bukti Adanya Hari Kiamat
9 jam lalu

Terkait tadabbur dan tafsir surah An-Naba, kita sekarang memasuki bagian yang kedua, yaitu tentang perenungan adanya alam semesta yang ada di hadapan kita, yang bermula dari ketiadaan, menjadi bukti bahwa Allah mampu membangkitkan segala sesuatu yang dulunya hidup lalu mengalami kematian.

Hal ini menjadi bantahan telak bagi kaum musyrikin yang ragu, “Apakah benar Allah bisa menghidupkan saya lagi setelah saya mati dan menjadi tulang belulang?”

Berkaitan dengan rangkaian ayat yang akan kita renungi, yaitu ayat keenam sampai enam belas, Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni memberikan munasabah yang luar biasa indah. Beliau menulis,

ثم أشار تعالى إِلى الأدلة الدالة على قدرته تعالى، ليقيم الحجة على الكفار فيما أنكروه من أمر البعث، وكأنه يقول: إِن الإِله الذي قدر على إِيجاد هذه المخلوقات العظام، قادرٌ على إِحياء الناس بعد موتهم

“Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan isyarat yang menunjukkan atas kekuasaan-Nya. Isyarat ini sebagai hujjah kepada kaum kafir yang mengingkari adanya hari berbangkit, yaitu hari kiamat. Seakan-akan dikatakan kepada mereka, ‘Bahwa Allah yang mampu untuk menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini dari nol, juga mampu untuk menghidupkan kembali manusia setelah mereka mati’.” (Shofwatut Tafasir, 3: 483)

Ibnu Juzay rahimahullah dalam At-Tashil menulis,

كأنه يقول: إن الإله الذي قدر على خلقة هذه المخلوقات العظام قادر على إحياء الناس بعد موتهم، ويحتمل أنه ذكرها حجة على التوحيد لأن الذي خلق هذه المخلوقات هو الإله وحده لا شريك له

“Seakan-akan Allah berkata, “Bahwa Ilaah yang mampu menciptakan makhluk-makhluk yang luar biasa ini, pastinya juga mampu untuk menghidupkan manusia setelah mereka wafat”. Ayat ini juga menjadi bukti atas tauhid, dikarenakan Zat yang menciptakan semua makhluk ini adalah ilaah yang satu, tiada kesyirikan baginya.” (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444)

Mari kita renungi segala makhluk Allah yang luar biasa ini, agar semakin kokoh keyakinan kita tentang adanya hari kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan.” (QS. An-Naba’ [78]: 6)

Bumi Allah jadikan hamparan, bahkan dijadikan nyaman seperti kasur atau ranjang agar manusia bisa menetap di atas bumi, bisa hidup disana, serta Allah berikan kemudahan untuk ditanami berbagai macam tanaman. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 444; Shofwatut Tafasir, 3: 483)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ

“Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’ [78]: 7)

Allah serupakan gunung sebagai pasak dikarenakan dengan gunung-gunung tersebut, bumi menjadi stabil dan tidak bergoyang kesana kemari, tidak pula terjadi gempa yang terjadi setiap hari yang akan menghancurkan kehidupan manusia. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَاجًاۙ

“Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.” (QS. An-Naba’ [78]: 8)

Allah menjadikan kehidupan manusia berpasangan laki-laki dan perempuan, agar terlaksana pernikahan. Dengan demikian, manusia memiliki keturunan dan kehidupan di muka bumi tidak terputus. Allah ciptakan pasangan dari masing-masing jenisnya, bukan jenis yang lain, agar seseorang bisa mendapatkan sakinah, mawaddah, dan rahmah. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)

Baca juga: Di antara Istilah yang Perlu Diketahui dalam Belajar Tafsir Al-Qur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ

“Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.” (QS. An-Naba’ [78]: 9)

Allah menjadikan tidur sebagai waktu istirahatnya badan, memutus kesibukan mencari penghidupan di siang harinya. Allah jadikan rasa ngantuk dan tidur bagi manusia sebagai nikmat, agar manusia bisa berhenti sejenak dari kegiatan yang senantiasa menuntut gerakan badan; yang jika tidak dihentikan, akan menimbulkan bahaya bagi manusia. (Taisir Karimir Rahman, hal. 906; Shofwatut Tafasir, 3: 483)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ

“Kami menjadikan malam sebagai pakaian.” (QS. An-Naba’ [78]: 10)

Malam diumpamakan seperti pakaian, karena malam menutup muka bumi dengan kegelapan seperti pakaian menutup anggota tubuh. Selain itu juga karena kegelapan malam menutupi pandangan mata. (Shofwatut Tafasir, 3: 483; At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ

“Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’ [78]: 11)

Siang dijadikan waktu untuk bekerja, menggunakan potensi raga dan pikiran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Allah menjadikan adanya siang dan malam agar hidup manusia teratur, ada waktu bekerja dan ada waktu istirahat. Seandainya Allah membuat semua waktu sebagai siang, manusia pasti akan binasa karena kelelahan tidak bisa istirahat. Demikian pula, jika Allah membuat semua waktu adalah malam, maka manusia akan kesulitan dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ

“Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.” (QS. An-Naba’ [78]: 12)

Allah membangun tujuh lapis langit di atas manusia. Tujuh lapis langit dengan penciptaan dari awal yang sempurna, dengan pengaturan yang tidak pernah salah, serta tidak rusak meskipun telah berlalu masa jutaan tahun lamanya. Langit Allah buat seperti atap bagi manusia, yang melindungi mereka dari berbagai kejadian berbahaya di luar angkasa yang bisa saja membinasakan mereka. (Shofwatut Tafasir, 3: 483)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ

“Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).” (QS. An-Naba’ [78]: 13)

Allah menjadikan di langit adanya matahari yang bersinar menerangi bumi. Sinarnya menerangi dan memberikan kehangatan bagi penduduk bumi. Panasnya sangat cocok untuk kehidupan bumi, serta stabil dalam waktu yang panjang. Siapa yang bisa menyalakan matahari dengan suhu yang pas itu untuk kehidupan bumi? Tentu hanya Allah yang mampu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ

“Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras.” (QS. An-Naba’ [78]: 14)

Allah menurunkan air hujan dari awan mendung. Awan mendung disebut dengan al-mu’shirot, yang artinya perasan, karena awan seakan diperas sehingga turunlan hujan, seperti seseorang memeras batang tebu kemudian turunlah air tebu karena diperas. (At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil, 2: 445)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ

“Agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman.” (QS. An-Naba’ [78]: 15)

Allah mengeluarkan dengan satu jenis air hujan yang sama, berbagai macam biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, sebagai makanan bagi manusia dan hewan-hewan, suatu hal yang sangat luar biasa. Allah sebutkan biji-bijian dahulu (seperti beras, jagung, gandum, dan semisalnya) karena kebutuhan manusia atas biji-bijian lebih urgent, karena itu secara umum merupakan makanan pokok bagi manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ

“Dan kebun-kebun yang rindang.” (QS. An-Naba’ [78]: 16)

Allah juga menumbuhkan berbagai macam tanaman dengan barbagai fungsinya. Tanaman yang memiliki batang keras digunakan untuk bahan pembuat rumah; tanaman yang harum digunakan untuk minyak wangi; tanaman yang rindang digunakan untuk berteduh, sehingga semuanya bermanfaat untuk manusia.

Demikianlah tafsir ringkas yang dapat kami sampaikan kepada para pembaca. Nantikan seri tafsir berikutnya, jazakumullahu khairan.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id

 

Daftar Pustaka

Abu Hayyan, Muhammad bin Yusuf. (2000). Al-Bahru Al-Muhith (Vols. 1-10). Beirut: Darul Fikr.

Alusi, Syihabuddin Mahmud. (1994). Tafsir Ruhul Ma’ani (Vols. 1-15). Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah.

Baghawi, Abu Muhammad Al-Hasan bin Mas’ud. (1999). Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an (Vols. 1-5). Beirut: Dar Ihya At-Turats.

Ibnu Juzay, Abul Qasim Muhammad bin Ahmad. (1992). At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil (Vols. 1-2). Beirut: Syarikah Darul Arqam.

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2009). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Vols. 1-7). Arab Saudi: Dar Ibnul Jauzi.

Majma’ Malik Fahd. (2009). At-Tafsir Al-Muyassar.

Mawardi, Ali bin Muhammad. (1999). Al-Nukat wa Al-Uyun (Vols. 1-6). Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Nasafi, Abdullah bin Ahmad bin Mahmud. (1998). Madariku At-Tanzil wa Haqaiqu At-Ta’wil (Vols. 1-3). Beirut: Dar Al-Kalam At-Thayyib.

Sa’di, Abdurrahman. (2000). Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi Tafsir Kalami Al-Mannan. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.

Shobuni, Muhammad Ali. (1997). Shofwatu At-Tafasir (Vols. 1-3). Kairo: Dar Ash-Shobuni.

Zuhaili, Wahbah. (1991). Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syariah wa Al-Manhaj (Vols. 1-30). Damaskus: Darul Fikr.


Artikel asli: https://muslim.or.id/111790-tafsir-surah-an-naba-bag-2.html